Selasa, 16 Oktober 2012

Agora


Di agora, kearifan dimulai dengan kegelisahan dan tak tahu. Ada satu kalimat yang konon dari Sokrates: "ia [Sokrates] tak tahu apa-apa, kecuali bahwa ia tahu ia tak tahu apa-apa."

Itu sebabnya sebuah agora, yang dalam sejarah Yunani Kuno merupakan tempat berkumpul orang di pusat kota, dijadikan Sokrates sebagai arena bertanya-jawab.

Sejarah mengisahkan ini bukan waktu senggang yang iseng dan tanpa konsekuensi. Dengan pertanyaan-pertanyaannya yang menggugat pikiran yang gampangan dan mandek, Sokrates mengibaratkan diri sebagai "lalat pengusik" bagi masyarakat, agar masyarakat itu tak terlena. Kita tahu, akhirnya Sokrates dihukum mati pada tahun 399 sebelum Masehi.

Dalam film Alejandro Amenbar, Agora, tokoh yang mesti mati adalah Hypatia. Ia seorang perempuan pemikir dari Alexandria, ibu kota Mesir di bawah kuasa Romawi pada tahun 331. Berbeda dengan Sokrates, Hypatia mati dirajam orang ramai: para penganut Kristen yang dengan berapi-api sedang hendak mengubah dunia dengan membasmi orang pagan atau "kafir". Tapi ceritanya tak sekadar itu.

Hypatia menolak jadi orang yang beriman karena ia melihat dirinya berperan sebagai orang yang bertanya. Ia berkata kepada Synesius, bekas muridnya yang jadi uskup di Cyrene, Libya: "Kau tak mempertanyakan, atau tak bisa mempertanyakan, apa yang kau imani. [Sedangkan] aku harus."

Synesius gagal mengajaknya masuk Kristen. Sikap itu merisaukan para pembesar kota, terutama karena Hypatia punya pengaruh dan sesekali dimintai pendapat dalam sidang-sidang mereka. Ia dipanggil menghadap.

Seseorang bertanya: "Mengapa sidang ini harus menerima nasihat dari seseorang yang tak percaya apa pun?"

Hypatia menjawab: "Saya percaya kepada filsafat."

Sebenarnya tanya-jawab itu bertolak dari kesalahan. Si pembesar kota menganggap bahwa tak percaya kepada Tuhan sama artinya dengan tak percaya apa pun.

Ia menyempitkan pandangannya. Sementara itu, Hypatia tak konsisten dengan argumennya sendiri: jika ia mengatakan "percaya kepada filsafat", berarti ia tak hendak dan tak dapat menggugat apa yang dipercayainya. Padahal bahkan filsafat bisa dipersoalkan. Ia, Hypatia, seorang pemikir, yang dengan atau tanpa sebuah sistem filsafat, menyimak dan menelaah kehidupan, dan berani menghadapi hal-ihwal yang tak segera ada jawabnya, atau yang telah lapuk.

Ia seharusnya menjawab: "Saya percaya kepada ketidaktahuan dan pertanyaan."

Tentu jawaban seperti itu akan terlampau sulit dicerna, terutama oleh mereka yang telah berkesimpulan bahwa agama adalah penangkal terakhir bagi ketidaktahuan dan pertanyaan.

Namun bagi Hypatia, ketidaktahuan dan pertanyaan tak bisa dihapus selama-lamanya. Keduanya akan selalu hadir selama manusia hidup dan berubah.

Dalam film Amenbar, Hypatia (dimainkan oleh Rachel Weisz) tampak tak henti-hentinya mencari jawab soal konstelasi bumi dan matahari.

Barangkali itu sebuah kekeliruan. Hypatia tampaknya yakin, pengetahuan yang diperoleh akan memberinya sebuah kekuatan. Ia lalai bahwa pengetahuan tak dengan sendirinya melahirkan kekuatan. Bahkan sebaliknya: kekuatan itu yang melahirkan pengetahuan, dengan mengkonstruksikan wacana.

Hypatia tak tahu betapa pentingnya kekuatan itu. Ia terisolir ketika ia acuh tak acuh terhadap perubahan yang terjadi di Alexandria: hari-hari itu, penganut Kristen yang merasuk ke mana-mana, juga ke kalangan kekuasaan.

Dan itulah yang kemudian menentukan ketika penguasa agama, Cyril, yang fanatik, keras, dan otoriter, hendak meneguhkan bahwa pengetahuan hanya mungkin selama orang mengakui otoritas Kitab Suci. Ia didukung umat yang sedang bergelora menghadapi iman yang bagi mereka harus ditinggalkan gelora yang membuat mereka buas.

Konflik berdarah pun terjadi dengan umat Yahudi. Kaum ini dibantai. Perpustakaan yang termasyhur di Alexandria pun dibakar sebuah peristiwa simbolik: perpustakaan adalah khazanah pengetahuan yang beraneka suara, dan sebab itu agama (yang tak menghendaki pengetahuan lain) tak membutuhkannya.

Sementara itu, Hypatia tak punya kekuatan apa pun. Ia semula dibela oleh Orestes, bekas muridnya dan lelaki yang mencintainya yang kemudian jadi wakil kekuasaan Romawi di Alexandria. Tapi kemudian Orestes pun tak bisa berbuat apa-apa menghadapi desakan umat Kristen yang makin keras.

Pada klimaksnya, Hypatia dibawa ke depan altar dan ditelanjangi. Orang-orang mengumpulkan batu untuk merajamnya. Di saat itu ia ditolong Davus, bekas budak yang mencintainya dan kemudian jadi orang Kristen: agar tak merasakan sakitnya hantaman ratusan batu, Hypatia dicekik sampai mati. Bukankah Tuhan kita mengampuni?

Itu pertanyaan Davus kepada seorang temannya, seorang militan Kristen. Jawaban sang militan: Tuhan mengampuni karena Ia Tuhan, sedangkan kita ini manusia. Dari jawaban itu tampak, si Kristen militan meletakkan dirinya tidak setara Tuhan dan sebab itu ia tak bisa mengampuni; maka ia membunuh.

Yang diabaikannya ialah bahwa ia membunuh justru karena ia meletakkan dirinya setingkat Tuhan dalam menentukan kesalahan manusia lain. Ia merasa dirinya mencerminkan Tuhan yang mahatahu dan sebab itulah ia merasa berhak memutuskan mana yang kafir dan yang bukan.

Dengan kata lain: dialah yang mengkonstruksikan sifat Tuhan, memilih mana yang cocok daan meniadakan yang tak cocok. Ia bahkan lebih kuasa ketimbang Tuhan.

Tak mengherankan bila sang militan tak melihat bahwa pengetahuannya tentang apa yang "buruk" dan yang "baik", yang "sesat" dan yang "tak sesat", sebenarnya dibentuk oleh pengalamannya di bumi; terutama pengalaman kompetisi dan antagonisme bukan oleh sabda dari langit. Agora, bagi saya, bukanlah film yang memikat.

Tapi saya kira ketika Amenbar membuatnya pada tahun 2008, di dalam dirinya bergema suara suram tentang agama-agama hari ini.

Goenawan Mohamad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar