
Di sela bunga-bunga mawar yang mekar dan di bawah gerimis yang membasahi senja, setangkai sunyi itu tampak begitu bening dalam keindahannya, seperti bunga keabadian yang tumbuh dari duka abadi. Seperti segala yang bermula dari sunyi, ia menjadi terlihat begitu berarti. Bukankah dunia ini juga bermula dari sunyi? Entahlah. Aku tak mengerti. Aku tak terlalu memahami. Tetapi yang pasti, kini, dihadapanku telah tumbuh setangkai sunyi yang begitu cemerlang, basah, dan murni. Memancarkan kehidupan yang menenteramkan hati. Segala yang kupandang seperti menjelma bentangan luas yang serba lembut dan segar. Langit bersih seperti hamparan kenangan yang menentramkan. Aku menyaksikan dunia yang selama ini hanya da dalam harapan. Aku menyaksikan sekawanan burung merpati terbang meniti sepi.
Aku memejam menyaksikan itu semua. Itu bukan dunia menyedihkan yang kukenal. Dan aku, tiba-tiba, menemukan diriku yang termanggu di beranda, seperti luluh di bawah cahaya pucat rembulan.
Tapi bayangan buruk itu berkeredep lagi. Bayangan yang tak ingin kaukekalkan dalam ingatan, tetapi selalu muncul seperti gedoran di tengah malam. Mengejutkan dan membuatmu tergeragap ketakutan. Aku menyaksikan darah menggenang di lantai ...
Bayangan itu begitu jelas, meski aku bersikeras tak ingin mengingatnya lagi. Aku baru saja pulang menjelang tengah malam dengan keletihan. Aku bayangkan Asih, istriku yang bermata lembut, akan membukakan pintu dan segera menyiapkan secangkir kopi hangat untuk meneduhkan penat. Anak-anakku mungkin masih ada yang tengah belajar. Atau mungkin mereka malah masih nonton televisi. Atau mungkin mereka sudah tertidur di kursi ruang keluarga, sementara televisi masih saja menyala. Asih, barangkali juga terkantuk menunggu kepulanganku. Ia selalu ingin membukakan pintu untukku. "Agar aku selalu tahu kau telah kembali," katanya. Itulah kenapa ia tak suka bila aku bersikeras untuk menduplikasi saja kunci pintu. "Kalau kau bawa kunci, kau jadi punya alasan untuk kembali lebih malam atau malah pulang dini hari ..."
Dan, suami yang terbiasa pulang dini hari, akan tergoda untuk tidak pulang dan lupa kalau ada yang tengah menunggu di rumah. Aku tersenyum setiap Asih mengatakan itu sambil lalu. Aku tahu kecemasannya, dan karenanya aku makin mencintainya. Ah, betapa menyenangkan membayangkan ada kehangatan yang menunggu di rumah.
Tapi, malam itu aku menemukan rumah begitu ganjil. Pintu setengah terbuka dan darah berceceran di lantai. Perabotan terguling berantakan. Asih tertelungkup dengan kepala pecah. Ida, Renaldi, Inan dan Betita--anak-anaku tercinta--terkapar dengan mata terbelalak. Seakan ketakutan masih melekat di kelopak mata mereka.
Benarkah semua itu sungguh-sungguh nyata? Benarkah darah, kekerasan dan pembantaian tidak cuma terjadi di televisi? Jadi, semua berita di koran-koran itu tidak mengada-ada? Perampokan terjadi di mana-mana. Pembunuhan setiap saat terjadi di mana-mana. Pembantaian di mna-mana. Seperti slogan tiada hari tanpa olah raga, kini tiada hari tanpa pembunuhan. Dunia telah menjadi penuh kisah kisah kekejaman. Kini aku bisa merasakan, betapa bukan kematian yang benar yang menakutkan, tetapi cara bagaiamana kita matilah yang membuat kita ngeri. Cara istri dan anak-anakku mati, selalu membuatku merinding. Membuatku selalu bertanya, benarkah ini dunia yang diinginkan Tuhan ketika menciptakannya?
AKU masih termangu di beranda, menyaksikan setangkai sunyi itu tumbuh mekar dan makin mengesankankan, sementara kegelapan seperti makin sempurna dalam gerimis. Pagar dan pepohonan basah, jalanan berkilat, dan makin muram, sedangkan pohon-pohon tampak menggigil ganjil. Aku melihat setangkai sunyi itu bergoyang-goyang dijentikkan angin. Ada suasana gaib yang ditimbulkannya. Seperti ada kesedihan yang diuntaikan jadi bunga keindahan. Atau semacam kesyahduan dan kerelaan yang tulus dalam duka tak berkesudahan.
Makin lama setangkai sunyi itu makin mekar membesar dan au semakin berdebar.
Di jalanan, orang-orang masih saja lalu-lalang tanpa memedulikan gerimis. Apakah yang membuat mereka tidak memedulikan gerimis? Kenapa tergesa-gesa? Apakah mereka juga menyimpan ketakutan ketika melintas gang remang atau jalan tanpa penerangan? Kulihat seseorang sedang melangkah bergegas. Mungkin tadi ia lama berdiri di halte, sementara rinai gerimis membuat sekelilingnya jadi tampak mengerikan; seperti ada rahang besar yang akan menelannya. Dan ia jadi gugup, lalu memutuskan untuk segera berjalan kaki. Tak jauh dari halte itu, barangkali, ia melihat ada seseorang yang terbunuh ketika baru saja turun dari taksi. Pastilah banyak peristiwa terjadi di luar sana. Sepasang kekasih yang berjalan sambil bergandengan tangan tiba-tiba dihampiri segerombolan pemuda. Gadis itu panik. Tanpa babibu gerombolan itu memukuli kekasihnya hingga terkapar dalam got. Lalu, gadis itu hanya bias merasakan betapa kerongkongannya seketika kering dan segumpal jerit membuat lehernya sesak ketika gerombolan itu mulai menyeretnya masuk ke dalam bangunan kosong terbengkalai. Mungkin ada beberapa orang yang menyaksikannya. Tapi, tak berani berbuat apa-apa.
Banyak kisah disembunyikan kota, tetapi kita tak tahu maknanya. Apa pentingnya semua itu bagi kita ?
Masih saja aku termangu di beranda dengan secangkir kopi yang telah dingin memandangi setangkai sunyi itu ketika kudengar teriakan riang memanggilku dari dalam rumah. Ah, suara itu! Terdengar penuh pengertian. Suara lembut Asih yang bagai selalu menawarkan kelembutan yang membuatku ingin selalu berada di dekatnya.
“Masuklah. Nanti kamu masuk angin …”
Suara itu masih terdengar dalam ingatan. Sampai aku yakin ia memang masih hidup. Dan ia memang tetap hidup. Dalam ingatan.
Aku masih saja mendengar suara pertengkaran Ida dan Renaldi memperebutkan lauk-pauk ketika makan malam. Masih kudengar derai tawa mereka yang renyah ketika menonton televise. Masih begitu jelas jeritan dan tawa mereka ketika saling kejar sambil saling melempar bantal. Suara Inan bermain piano. Betita yang merengek minta dikeloni. Lalu kudengar suara Asih menyuruh Idan dan Renaldi belajar. Aku ingat pada mata si bungsu yang menatap manja. Sepasang mata itu mirip sekali dengan mata ibunya.
“Ayo, kamu panggil Ayah masuk … Biar kamu dikeloni Ayah, ya ….
Aku mendengar langkah ringan Betita mendekati pintu. Kurasakan Betita hati-hati mendekatiku. Aku menengok ke arah pintu itu. Tak ada siapa-siapa.
Tapi, aku yakin Betita masih ada. Ia mungkin malu bersembunyi di balik pintu.
Aku selalu merasa ada dan nyata. Sebagaimana setiap kai aku bangun pagi dengan malas karena tak tahu harus melakukan apa dengan hidup yang makin hampa dan membosankan ini, kemudian mendapati kesibukan pagi ketika bayangan anak-anak berkelebatan ingin cepat berangkat sekolah. Aku mendengar celoteh mereka menikmati roti. Aku mendengar denting sendok di piring. Aku mencium bau harum kopi mengambang di udara pagi. Dan aku berjalan mendekati meja makan. Mendapati nasi goring yang sedap. Terhidang sempurna.
Dan aku termangu memandangnya. Mencoba menyakinkan betapa segalanya masih seperti semula. Anak-anak dan istriku tak pernah mati dengan cara mengerikanseperti yang kusaksikan. Ah, siapa yang bias menghapus kenangan? Mereka tetap berkeliaran dalam rumah. Itu lebih baik, batinku. Daripada mereka bermain–main diluar rumah. Mereka bias saja sewaktu-waktu mati dengan cara mengerikan. Untuk kali kedua.
“Masuklah. Sudah malam.. Nanti kamu masuk angin …”
Suara itu kembali memanggil. Aku bangkit dan menyempatkan memetik setangkai sunyi yang tumbuh dalam rimbun kesepianku itu. Biarlah nanti ia akan menaruhnya di vas bunga, disamping potret keluarga. Agar kami bias selalu memandangi dan menikmatinya bersama-sama.
SETIAP kali ada kenalan atau kerabat yang dating mereka sangat terpukau dengan setangkai sunyi itu.
“Benar-benar menakjubkan!” pekik mereka.
“Oh, ya?”
“Ya. Aku tidak pernah membayangkan kalau ada sekuntum bunga yang begini indah. Aku bukanlah orang yang suka bunga, tetapi jujur, aku langsung jatuh cinta melihat bunga ini. Bunga apakah ini?”
“Itu bukan bunga,” kataku. “Itu kesunyian.”
“Ah, aku tak mengerti maksudmu?”
“Kalian memang tak bakal mengerti.”
Lantas aku mengajak mereka ke halaman, menunjukkan serimbun sunyi yang bermekaran. Mereka terpesona. Mereka dengan gembira memetik dan membawanya pulang.
Dan aku, selalu, kembali merasa makin sepi setelah mereka pergi. Kembali disergap kehampaan ketika merasakan dunia yang makin tidak mempesona. Sendiri merawat kesunyian yang tumbuh di halaman. Begitulah, aku rawat sunyi itu hingga tumbuh subur. Aku tanam bunga sunyi itu di sekeliling pagar, di bawah jendela kamar, agar setiap aku bangun pagi bias kuhirup harum baunya yang menentramkan. Kutanam bunga sunyi itu disetiap pojok rumah dan juga lahan-lahan kenangan yang sering kali sayup-sayup membuatku menangis sendirian.
Setangkai sunyi yang mula-mula aku temukan tumbuh di antara rerimbunan bunga-bunga itu kini telah memenuhi halaman dan setiap jengkal rumah. Setangkai sunyi itu kini bermekaran di mana-mana. Setiap menghirup keharumannya aku seperti melayang dan mengapung. Kelopaknya selalu berkilat. Daun-daunnya selalu basah. Tangkainya selalu bergoyangan. Aku melihat anak-anakku berlarian riang seperti kupu-kupu yang berterbangan dari satu tangkai sunyi ke tangkai sunyi yang lainnya.
Setiap pagi aku selalu menyaksikan setangkai sunyi itu berbunga. Dan setiap kali itu pula aku masih merasakan keperihan kesepian.
Blog ini keren, I like it TOP!!
BalasHapuskeren.. bang,,,
BalasHapus