Minggu, 11 Desember 2011

Kaya Rasa, Kaya Makna -- Gede Prama


“Cangkul, cangkul, cangkul yang dalam…”

Kemiskinan badan yang berjumpa dengan kemiskinan pikiran, demikian seorang murid mendengar bisikan gurunya di akhir meditasi. Rumah sakit yang seyogyanya menjadi tempat penyembuhan, tidak saja mahal malah mengirim pasiennya ke penjara. Rumah tangga yang dulunya menjadi tempat teduh pertumbuhan manusia, sekarang menjadi ladang perkelahian yang kering kerontang. Sekolah yang dulunya membahagiakan, sekarang ketika ujian dijaga polisi. Bahkan terjadi penangkapan-penangkapan menakutkan. Contoh seperti ini masih bisa ditambah dengan yang lain. Dari sini timbul pertanyaan bagi generasi baru, ke mana peradaban akan berteduh?

Sekolah yang indah

Di banyak tempat, mulai ditemukan kasus-kasus home schooling. Anak-anak takut pergi ke sekolah karena berbagai alasan. Dari dipukuli teman, ngeri guru galak, pekerjaan rumah yang menumpuk, ujian (ulangan) yang tidak ada habisnya.

Seorang sahabat menteri kabinet yang anaknya terkena home schooling, memutar kepala habis-habisan bagaimana agar wajah sekolah menjadi indah di mata anaknya. Ini memberi inspirasi, mungkin ini saatnya merenungkan sisi-sisi sekolah yang indah. Dan diantara sekian pilihan yang tersedia, latihan memberi adalah salah satu alternatif.

Di sebuah pelatihan supir untuk perusahaan taksi terkemuka pernah dilakukan latihan memberi yang menarik. Di hari pertama peserta diminta membawa nasi bungkus karena tidak diberikan makan siang. Maka berlomba peserta membawa makanan yang seenak-enaknya. Ternyata di waktu makan siang supir diminta meletakkan nasi bungkusnya di kelas sebelah untuk dimakan peserta kelas sebelah. Sedangkan yang bersangkutan memakan makanan yang dibawa sahabat kelas sebelah.

Di hari kedua, lagi-lagi diumumkan untuk membawa nasi bungkus. Setelah tahu kalau nasi yang dibawa untuk orang lain, banyak peserta yang hanya membawa nasi seadanya. Tidak sedikit hanya memasukkan nasi putih tanpa berisi satu lauk pun. Dan ternyata di hari kedua aturannya berubah, peserta harus memakan nasi yang dibawa dari rumah. Dan tahu sendiri akibatnya.

Apa yang mau diilustrasikan di sini, menyangkut perut sendiri betapa borosnya manusia kekinian memberi, bahkan banyak yang sampai stroke hanya karena memberi berlebihan pada perut. Namun berkaitan dengan perut orang lain betapa sedikit yang diberikan. Dan tiba-tiba para supir taksi tersentak, betapa egoisnya hidup, dan keegoisan inilah yang membuat hidup jadi penuh penderitaan.

Para guru yang kaya di dalam, tidak pernah bosan membimbing muridnya: “Memberi, memberi, memberilah terus. Dan lihat bagaimana hidupmu jadi sejuk dan lembut setelah rajin memberi”.

Dan ini bisa dilakukan melalui hal-hal yang kerap disebut “sepele”: menyapu lantai, membantu anak-anak mengerjakan pekerjaan rumah, menemani anak-anak main bola, merapikan piring ketika pembantu tidak ada, membantu pekerjaan teman di kantor yang bebannya lagi tinggi, memberi jalan pada orang-orang yang sedang terburu-buru.

Di sekolah para guru boleh meniru pola pelatihan supir taksi tadi, bisa juga mengajak anak-anak didik pergi ke panti asuhan, rumah orang-orang yang tubuhnya tidak lengkap, menjenguk pasien-pasien tua di rumah jompo, bermain bola bersama anak kampung. Intinya satu, menyadarkan mereka bahwa memberikan itu membahagiakan.

Dalam bahasa orang-orang yang rajin memberi, ketika memberi sesungguhnya manusia tidak saja sedang mengurangi beban orang lain, melainkan juga sedang membangunkan sifat-sifat bajik yang ada di dalam diri. Dan tatkala sifat-sifat bajik muncul, kebahagiaan muncul secara alamiah.

Tiga tangga pemberian

Ada yang membagi pemberian ke dalam tiga tangga keutamaan. Pertama, para mahluk sama dengan kita: “mau bahagia, tidak mau menderita”. 0leh karena itu, jangan pernah menyakiti. Kedua, para mahluk lebih penting dari kita. Nasi, lauk, air, udara, pekerjaan dan semua yang memungkinkan hidup berputar, dihasilkan pihak lain. Binatang bahkan terbunuh agar manusia bisa makan daging. Untuk itu, banyaklah menyayangi. Dari menanam pohon, membeli burung kemudian melepaskannya, mengurangi memakan daging, sampai memberikan bea siswa anak-anak miskin.

Ketiga, karena para mahluk lebih penting, belajarlah memberikan mereka kebahagiaan, mengambil sebagian penderitaannya. Perhatikan doa Santo Fransiscus dari Asisi. Cintaku, izinkan saya menjadi budak perdamaian. Di mana ada kemarahan, biar saya hadir dengan kasih. Di mana ada kebencian, biar batin ini muncul dengan memaafkan. Mistikus Sufi Kabir menulis: I glimpsed it for fifteen seconds and it made me a servant of life. Nur itu terlihat hanya beberapa detik, namun ia merubah seorang penyembah menjadi seorang pelayan.

HH Dalai Lama kerap menyentuh publik ketika menyampaikan pesan lembut ini: “Jika Anda mau bahagia, sayangi orang lain. Bila Anda mau orang lain bahagia, sayangi orang lain”.

Ini serupa dengan lirik lagu anak-anak tentang menanam pohon yang dikutip di awal, cangkul, cangkul, cangkul yang dalam. Karena hanya dengan mencangkul yang dalam, akar-akar pohon bisa menghidupi batang, daun, bunga dan buah. Kehidupan manusia juga sama. Hanya pemberian yang memungkinkan seseorang “mencangkul hidupnya” secara mendalam. Dan sebagai hasilnya, ada sekuntum bunga indah kehidupan yang mekar: “kaya rasa, kaya makna”. Di tahap ini, ada yang berbisik: Death can be beautiful too!. Bahkan kematian pun berwajah indah. Pertama, bagi yang terbiasa memberi (melepaskan), tidak lagi tersisa kemelekatan yang membuat kematian berwajah menakutkan. Kematian menakutkan karena belum terbiasa melepaskan. Kedua, melalui kematian manusia sedang melaksanakan kesempurnaan pemberian. Jangankan uang, bahkan tubuh pun harus diikhlaskan.

Unsur tanah dari tubuh menyatu dengan tanah, kemudian ikut menghidupi semua mahluk di bumi karena menghasilkan padi, sayur, buah. Unsur air bergabung dengan air agar mahluk tidak kehausan. Unsur api menyatu dengan api agar mahluk bisa memasak. Unsur udara bersatu dengan udara sehingga mahluk bisa melanjutkan kehidupan. Unsur jiwa (ada yang menyebutnya kesadaran) menyatu dengan semua jiwa (kesadaran) agar mahluk ikut ketularan teduh. Inilah kematian yang menawan. Melalui kematian manusia bukannya kehilangan, malah memberikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar