Senin, 18 Juli 2011

Menjadi Matahari


Kekacauan kosmik  di mana-mana. Barat yang lama menjadi idola dunia dalam keteraturan, kesantunan, keberadaban, sekarang berdarah-darah. Perdana menteri (PM) Italia Silvio Beluschoni dilempar patung hingga berdarah mukanya.  Kasus pemimpin dilempar sepatu tidak saja dialami oleh mantan presiden Amerika Serikat George Walker Bush, rabu 23-2-2010 PM Turki Recep Tayyip Erdogan juga dilempar sepatu.

Politik di negeri ini juga menyentuh hati. Bila di zaman Majapahit, raja  diyakini sebagai reinkarnasi dewa, sehingga tatanan kosmik terjaga rapi, di zaman ini ada yang tega menyamakan pemimpin dengan kerbau.  Bali juga serupa. Di sana-sini terjadi ketegangan-ketegangan kosmik yang mengkhawatirkan. Jangankan ketika memperebutkan kekuasaan, kadang dalam upacara pun ketegangan terjadi.

Bila tubuh manusia diibaratkan alam, tatanan kosmik terjaga rapi bila topi  menutup kepala, sepatu melindungi kaki. Kekacauan kosmik terjadi bila sepatu dilemparkan ke kepala, kepala  diperlakukan  atau  berperilaku secara menyentuh hati. Bila  alam  kemudian  berespon dengan kekacauan, tentu saja bukan kebetulan, karena alam  sebagian memantulkan perilaku manusia.

Penerang kegelapan

Digabung menjadi satu, dari segala penjuru datang kegelapan. Jangankan uang dan kekuasaan, bahkan spiritualitas pun ditandai sejumlah kegelapan. Kiri dibenci, kanan dikagumi. Tuhan dipuji, setan dicaci. Atas dihormati, bawah diinjak pakai kaki. Sebagai akibatnya kehidupan penuh berisi ketegangan, ketegangan, ketegangan. Sehingga inilah sebuah zaman di mana kedamaian, keheningan, ketenangan menjadi barang teramat langka. Padahal, kesehatan badan maupun jiwa amat memerlukan kedamaian.

Dalam urgensi seperti ini, di mana-mana di kaki langit ini amat dibutuhkan kehadiran penerang kegelapan (baca: guru). Ia tidak saja dibutuhkan manusia, keseimbangan-keseimbangan kosmik juga amat membutuhkannya. Seperti malam yang membutuhkan siang, demikian juga keseimbangan kosmik merindukan penyebar kedamaian sebagai penyeimbang kekacauan di mana-mana.

Dari segi banyaknya noda, ada tiga jenis guru. Guru pertama ditandai dengan banyak noda (marah, iri, serakah). Guru jenis ini belum bercahaya. Malah berbahaya karena belajar spiritualitas tanpa upaya keras untuk melaksanakannya bisa menjadi penyebab bagi terlahirnya seseorang di alam bawah. Guru kedua sudah sedikit nodanya. Kendati ajaran belum membadan tetapi pelan perlahan cahaya ajaran mulai muncul. Guru ketiga, ditandai oleh sejumlah tanda keagungan (berkharisma), sehingga hidupnya sudah menjadi ajaran yang hidup. Ini yang membuatnya seperti pembawa cahaya.

Dari segi isi di dalamnya, juga tersedia tiga jenis guru. Pertama adalah guru yang berisi intelektualitas yang kaya. Ini mudah dikenali melalui ketangkasannya memuaskan dahaga intelektualitas. Guru jenis ini tidak saja menguasai buku suci, tetapi juga bisa menyampaikan dengan kerangka yang mudah dipahami. Guru jenis kedua adalah guru yang senantiasa terserap ke dalam samadhi (konsentrasi). Ciri guru jenis ini adalah vibrasi kedamaiannya bagus sekali. Dekat-dekat dengan guru jenis ini, membuat seseorang mudah menangis. Seperti menemukan Ibu yang sudah dicari selama jutaan kelahiran.  Guru ketiga paling sulit dikenali, terutama karena ketika ia masuk ke dalam samadhi  ia sesungguhnya sedang keluar, tatkala ia keluar dari samadhi sebenarnya sedang masuk. Dalam bahasa-bahasa kosmik, guru ketiga sudah menyatu dengan kekuatan kosmik. Ia tidak saja bisa membaca tanda-tanda kosmik, namun juga berdialog dengan kekuatan-kekuatan kosmik.

Shiva Raditya

Mencermati warisan tetua Bali, spiritualitas Bali jelas sekali merupakan perpaduan antara agama dan seni. Menyangkut agama sebagaimana tertulis di buku suci saja sudah teramat sulit menyatukan pemahaman, apa lagi seni. Seni itu unik sekaligus otentik. Jangankan apel dan kelapa yang nyata-nyata berbeda, dua buah apel dari pohon yang sama pun berbeda sekaligus otentik.

Gurunya Vivekananda bernama Ramakrishna adalah guru langka yang membimbing muridnya menjadi otentik. Suatu hari kakak kelas Vivekananda datang sambil menangis karena gurunya Ramakrishna dijelek-jelekkan oleh tukang perahu di sungai. Melihat hal ini, Ramakrishna bertanya: ‘kenapa menangis?’. Mendengar pertanyaan guru seperti ini, besoknya ketika Vivekananda mengalami hal yang sama segera tukang perahu yang sentimen tadi dipukuli hingga berdarah. Ketika pengalaman ini diceritakan ke guru, dengan ekspresi yang sama Ramakrishna bertanya: ‘kenapa dipukuli?’. Bingung oleh respon seperti ini, Vivekananda bertanya balik: ‘yang benar yang mana?’. Dengan tangkas Ramakrishna menjawab: “menjadi otentik!”.

Tidak mudah bagi orang awam memahami perintah guru untuk menjadi otentik. Sederhananya, di awal seseorang memang sebaiknya dibimbing guru hidup. Di tengah, murid boleh diperkaya guru luar. Namun di akhir, seseorang mesti kembali ke keunikan dirinya (otentik). Ini yang menyebabkan J. Krishnamurti memberi judul karya masterpiece-nya dengan Freedom from the known. Membebaskan diri dari segala macam hal yang pernah diketahui. Catatannya, ini boleh dilakukan oleh seseorang yang perjalanannya sudah jauh.

Tugas jauh lebih berat sehabis menemukan otentisitas diri ini adalah membuat intisari ajaran ini membadan dalam keseharian. Karena pemahaman intelektual tidak selalu sejalan dengan langkah keseharian. Sebagian contoh, ada sarjana hukum dihukum di Lembaga Pemasyarakatan, ada dokter terkena serangan jantung. Artinya, mengetahui bukan jaminan bisa melaksanakan.

Di Tantra, ada sejumlah cerita inspiratif betapa beratnya membadankan intisari ajaran. Naropa adalah seorang guru besar di Universitas Nalanda. Setelah bertahun-tahun merasa diri kering hanya dengan pemahaman intelektual, kemudian ia berdoa bagaimana agar pengetahuannya membadan dalam keseharian. Tiba-tiba muncul nenek-nenek kurus dan kotor yang tertawa mengejek Naropa: “Naropa, kamu pikir buku-buku itu bisa membuat dirimu tercerahkan. Kamu salah besar Naropa! Kamu harus pergi menjumpai gurumu Tilopa”.

Karena itulah ia menjumpai gurunya Tilopa. Selama dua belas tahun Naropa diterjunkan ke dalam latihan keras dan berat, termasuk dua belas kali nyaris mati. Di suatu waktu ketika ia sudah siap, kepala Naropa digampar dengan sandal jepit yang kotor sekaligus jorok, kemudian ia tidak sadarkan diri, terserap ke dalam samadhi selama seminggu. Tujuh hari kemudian, baru ajaran bisa membadan ke keseharian Naropa. Cerita unik otentik seperti ini juga dialami dari Marpa ke Milarepa, dari Nagarjuna ke Nagabodhi, dari Dharmarakshita ke Atisha Dipankara.

Dan sebagaimana diwarisi banyak murid Tantra, Tilopa dan Naropa adalah sepasang guru Tantra yang tidak saja dikagumi, namun juga menjadi subyek penyatuan dalam banyak sekali kegiatan guru yoga dan guru puja.

Guru-guru seperti ini sudah menjadi seperti Matahari. Mau ditutup awan atau tidak, ia tetap bercahaya. Mau gurunya masih hidup, atau sudah wafat, ia tetap bercahaya. Begitulah ciri guru-guru otentik. Makanya tetua Bali memberi sebutan terhadap Matahari dengan nama Shiva Raditya. Atau pelinggih di mana dwi tunggal Shiva-Buddha dupuja sebagai Sang Hyang Tunggal bernama Padmasana. Kadang disebut surya (Matahari).

Gamblangnya, ketika kegelapan menyelimuti kehidupan, berdoalah agar muncul surya dari dalam diri.

Gede Prama

Tidak ada komentar:

Posting Komentar